METRO

Legenda Jakarta

Kisah Masjid Dibangun Satu Malam

Masjid yang berdiri sejak tahun 1600 itu, mempunyai nilai historis tersendiri.

ddd
Rabu, 11 Agustus 2010, 11:05 Eko Priliawito
Masjid Al Alam di Marunda Jakarta Utara
Masjid Al Alam di Marunda Jakarta Utara (jakarta.go.id)

VIVAnews - Ada ratusan tempat ibadah umat islam di Jakarta merupakan bangunan tua, bahkan umurnya lebih dari empat abad. Salah satu yang paling tua adalah Masjid Al-Alam, di Kampung Marunda Pulo RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1600 itu, mempunyai nilai historis tersendiri. Lokasi Masjid yang berada persis di pesisir pantai Marunda merupakan salah satu 12 obyek destinasi wisata pesisir di Jakarta Utara.

Konon Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, di antaranya Si Pitung.

Kedatangan para peziarah dari berbagai daerah, tidak lepas dari keistimewaan sejarah Masjid Al Alam yang konon dibangun oleh Walisongo.

"Masjid ini dibangun Walisongo dengan tempo semalam, saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa," kata M. Sambo bin Ishak, wakil ketua Masjid Al Alam. "Karena itu, nama asli masjid ini Al Auliya, masjid yang dibangun para wali Allah," lanjutnya.

Sementara di tempat terpisah, tokoh Betawi, Alwi Shahab, mengatakan bahwa pendiri masjid Al Alam adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa.

Ada keyakinan di masyarakat Marunda, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari. Meski berbeda pendapat, baik Sambo dan Alwi Shahab mengatakan hal yang sama bahwa Masjid Al Alam dibangun hanya dalam tempo semalam, meski pijakan alasan keduanya berbeda.

Berangkat dari tempo pembangunan itu, tidak mengherankan bila masjid yang ukurannya mirip musalah itu menjadi istimewa bagi masyarakat Marunda khusunya, dan umat Islam umumnya. Terlebih bila mengingat bahwa Masjid Al Alam juga sarat nilai sejarah perlawanan terhadap penjajah.

Seratus tahun kemudian (1628-1629), lanjut Alwi Shahab, ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk mengatur siasat perjuangan.

Penuturan Alwi Shahab tersebut, senada dengan penjelasan Sambo tentang lubang kecil berbentuk setengah oval yang terdapat di bagian kiri masjid Al Alam. Menurutnya, lubang tersebut digunakan sebagai pengintaian terhadap bala tentara musuh.

"Tidak hanya tentara Demak, tapi juga Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan." ujar Alwi.

Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini  ukurannya 10×10 meter. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat seperti kaki bidak catur.

Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi dua meter dari lantai dalam.

Kemudian, di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid. Ini mengingatkan pada arsitektur Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid.

Beberapa bagian masjid lainnya masih asli. Di antaranya adalah tembok di ruang utama masjid yang memiliki ketebalan sekitar 27 cm dan hiasan jendela yang terdapat di ruang pengimaman. "Itu juga asli, dalamnya terbuat dari batu giok," lanjutnya.

Selain itu, Sambo juga menunjukkan sebuah tongkat yang terukir melingkar seperti ular. Menurutnya, tongkat itu cukup istimewa dan hanya dikeluarkan setiap hari Jum'at saat khutbah.

"Tongkat ini datangnya misterius. Tiba-tiba datang ke sini lewat air," katanya.

Saat ini, masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarahi, terutama setiap malam Jumat Kliwon dengan kegiatan rutin berupa istighotsah.

Begitu juga sumur tua yang usianya ratusan tahun tersebut berada di samping masjid sampai saat ini air masih tetap mengalir dan tidak pernah kering.

Dengan keistimewaan Masjid Al Alam, baik nilai-nilai sejarah perlawanan yang heroik dan karomah para pendirinya, dalam perkembangannya juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar Marunda, baik yang berhubungan dengan nilai-nilai islami maupun rizki.

Dengan ramainya para peziarah, masyarakat bisa mengambil keuntungan dengan menjual makanan di sekitar Masjid Al Alam. Apalagi saat bulan suci Ramadan.

Demikianlah keistimewaan Masjid Al Alam atau Al Auliyah Marunda. Meski dibangun hanya dalam tempo semalam, tapi manfaatnya terasa hingga ratusan tahun.

"Bangunannya mengandung budaya Jawa, Arab, dan Eropa," ungkapnya. Gaya Jawa terlihat pada atap joglo yang bertingkat dua, gaya Arab terlihat pada ukiran kaligrafi, dan gaya Eropa terlihat pada empat tiang yang menopang atap masjid.

Saat Ramadhan tiba, banyak jemaah, dari Jakarta maupun dari daerah, sejak awal hingga akhir Ramadan. Menjelang 10 hari Idul Fitri, lebih banyak orang yang datang untuk beriktikaf.

"Setelah melakukan iktikaf biasanya mereka berziarah ke rumah Si Pitung sambil menikmati suasana pantai publik Marunda," ungkap Aman. (adi)

Laporan: Arnes Ritonga| Jakarta Utara



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
kingstone
17/05/2011
bukan cuma cinta satu malam, tapi ternyata ada juga masjid satu malam...
Balas   • Laporkan
Subahannaallah....masjid yg sangat di lindungi dari segala kejahatan atappun bencana.ALLAH maha besar,
Balas   • Laporkan
iskandar z
29/10/2010
alamat lengkapnya kira - kira sebelah mana ya? tolong dong land scapenya. thank's
Balas   • Laporkan
nghawor..
26/10/2010
Ternyata bukan hanya cinta saja, mesjid juga ada ...
Balas   • Laporkan
ichsan
06/10/2010
Semoga, kita tidak hanya teoritis saja dlm menjaga kelestarian budaya bangsa.. tetapi mewujudkan dan mempraktekannya.. amien.
Balas   • Laporkan
abay
05/10/2010
Bismillahirrohmanirrohim, Semoga Allah merahmati kita semua dan menambah iman kita agar lebih dekat lagi kepadanya. Amin.
Balas   • Laporkan
achmad
20/09/2010
kita harusnya malu sama pendiri mesjid,yang ratusan tahun yang lalu. bagaimana kita lebih semangat,lebih giat lagi belajar agama
Balas   • Laporkan
boyocity
15/09/2010
Ayo...smangat wahai kaum muslimin, mari kita bangkit, kita tunjukkan bahwa kita umat yg berkualitas, kuat ekonomi, cerdas n bermanfaat bagi umat manusia.....SEMANGAT....
Balas   • Laporkan
tudyansyah
18/08/2010
Selain Kite, siape lagi nyank jagain kebudayaan ame kelestarian bangunan masjid Al Alam dan bangunan bersejarah lainnyee...... Nyoo.... same2 kite jage keutuhan selamanyee...
Balas   • Laporkan
tudyansyah
18/08/2010
Selain Kite, siape lagi nyank jagain kebudayaan ame kelestarian bangunan masjid Al Alam dan bangunan bersejarah lainnyee...... Nyoo.... same2 kite jage keutuhan selamanyee...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com