METRO

Pemerkosaan Marak, Polisi Razia Angkot

Dari beberapa kejadian, pelaku perampokan dan pemerkosaan adalah sopir tembak.
Kamis, 15 September 2011
Oleh : Eko Priliawito, Siti Ruqoyah
Angkutan kota di terminal

VIVAnews - Angkutan umum kota alias angkot kerap dijadikan sarana kejahatan di Jakarta belakangan ini. Para pelaku selalu mengincar wanita untuk dijadikan korbannya. Tak cukup hanya melakukan perampokan, sejumlah korban bahkan mengalami pemerkosaan.

Dari beberapa kejadian, pelaku perampokan dan pemerkosaan adalah sopir tembak. Mereka biasanya melakukan aksinya secara berkelompok, atau lebih dari dua orang dan beraksi pada malam hari.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Royke Lumowa meminta kepada masyarakat melihat dengan seksama sebelum naik angkut umum. Curigai kendaraan yang memasang kaca gelap. Bagi penumpang perempuan pastikan ada banyak penumpang di dalamnya khusunya ada penumpang perempuan.

Guna menjawab peningkatan kasus kejahatan di dalam angkutan umum, akan segera dilakukan razia gabungan bersama Dinas Perhubungan Jakarta. Khususnya angkutan jenis kecil di pinggiran Jakarta.

"Untuk menindak urusan Reserse, sepanjang ada petugas lalulintas tetap ada kewajiban menindak. Setiap malam ada lebih dari 100 kendaraan patroli untuk menjaga sepanjang jalan, baik motor dan mobil," ujarnya

Ditambahkan Royke, selama ini hampir 60 persen angkutan umum memang tidak melakukan uji kir atau kelayakan kendaraan. Permasalah lain adalah maraknya sopir tembak dalam sistem menarik angkot. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak memiliki SIM

"Akan ditertibkan bagi sopir tembak. Bila tidak ada surat keterangan dari pemilik kendaraan akan ditindak," katanya.

Kepala Bagian Operasional Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Sujarno, selama tahun 2011, kasus pemerkosaan mencapai 40 kasus. Dari jumlah itu, kejadian di dalam angkot memang terbilang lebih sedikit dari kasus pemerkosaan lain.

Sebelumnya, kasus pemerkosaan di dalam angkot yang berujung pembunuhan menimpa mahasiswa Bina Nusantara bernama Livia Pavita Solistio. Empat sopir angkot tembak M24 jurusan Slipi-Binus-Kebon Jeruk, adalah pelakunya. Polisi sudah menangkap mereka.

Dari pengakuan para tersangka, sejak awal mereka memang sudah mempersiapkan diri untuk merampok, dan mengincar siapa saja wanita yang naik angkotnya. Pelaku kemudian berputar-putar dan membawa Livia ke sebuah istal kuda di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Di tempat ini aksi pemerkosaan dilakukan.

Dalam keadaan tak bernyawa, sekitar pukul 16.30 WIB, mayat Livia kemudian dibuang di kawasan Cisauk, Tangerang, Banten. Baru pada Minggu, 21 Agustus 2011, jenazah Livia ditemukan dalam kondisi yang susah dikenali lagi.

Kasus serupa menimpa seorang karyawati bernisial SRS (27) di dalam angkot D-02 jurusan Ciputat-Pondok Labu. Korban digilir empat orang yang diperkirakan kuat adalah sopir tembak.

Peristiwa ini bermula saat SRS  yang tercatat sebagai warga Pondok Gede, pulang kerja sekitar pukul 00.30 pada Kamis, 1 September 2011. Saat menunggu kendaraan di di kawasan Cilandak untuk melanjutkan perjalanan ke arah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Saat itu mikrolet D-02 menghampirinya, salah seorang pelaku, Yogi menawarkan akan mengantar sampai ke Pasar Rebo.

Karena sudah tidak ada angkutan umum, SRS akhirnya mau naik. Tapi dalam perjalan, dua pelaku yang ada di bangku belakang malah menyekapnya dan memaksa melakukan hubungan badan. Korban menolak. Korban lalu dipaksa membuka baju dan diperkosa di dalam angkutan tersebut.

"Mulut dibekap, kaki dan tangan diikat, Korban juga diperkosa bergilir tiga pelaku lainnya, yakni Yogi, Aris, dan Sebastian, " kata Wakasatlantas Polres Jakarta Selatan, Komisaris Sungkono.

Pemerkosaan berlangsung selama mikrolet itu berjalan dan memutar-mutar di wilayah Trakindo hingga Cilandak. Setelah puas melakukan aksinya, korban dibuang di perumahan Marinir, Pemancingan, Cilandak.

Beberapa barang bawaan korban, seperti Blackberry Gemini dan ponsel Esia, juga dirampas pelaku. Kini polisi masih memburu tiga pelaku lain yang masih buron.

Perampokan yang korbannya wanita juga terjadi di Depok, Jawa Barat. Elvira, 40, warga Beji dibawa berputar-putar oleh pelaku setelah naik dari kawasan PLN Jalan Arif Rahman Hakim.

Di dalam angkot rupanya sudah ada empat penumpang yang tak lain adalah pelaku. Orang yang duduk di sebelahnya membekap mulut dan menodongkan pistol  sambil mengancam akan membunuh jika melawan.

Elvira dipaksa mencairkan uang dari ATM-nya sebesar Rp15 juta. Untuk menghilangkan jejak, Elvira kemudian di buang di kawasan Kampung  Rawa Kalong, Setia Mekar, Tambun Selatan, Bekasi. (adi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found