Foke Masih Populer di Kalangan Menengah Bawah
Hasil survei ini dianggap belum sempurna karena peta politik masih tidak stabil.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (VIVAnews/Fernando Randy)
VIVAnews - Hasil penelitian yang dilakukan divisi penelitian Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG) dengan tema penelitian persepsi publik terhadap kriteria dan figur calon Gubernur DKI Jakarta 2012 menyatakan, calon incumbent Fauzi Bowo masih cukup populer bagi masyarakat menengah ke bawah.
Penelitian ini dilakukan mulai 5 hingga 17 Maret 2012 dengan jumlah responden mencapai 1.180 orang yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta. Menurut Direktur SSSG Fadjroel Rachman, dari hasil survei menunjukkan Fauzi Bowo masih populer.
"Namun hasil survei belum sempurna benar. Karena peta politik selalu berubah dan tidak pernah stabil. Bisa saja hasilnya akan berubah pada survei berikutnya," kata Fadjroel dalam acara Diskusi Riset Cagub DKI Jakarta 2012, Perbandingan antara Publik dan Tokoh, di Wisma Kodel, Jakarta Selatan, Selasa 17 April 2012.
Dia menegaskan, survei dilakukan SSSG dalam rangka membangun kepemimpinan demokratis dan demokrasi Indonesia memasukkan 10 prinsip good governance. Yaitu partisipasi, kepastian hukum dan hak-hak asasi manusia, transparansi, responsif, berorientasi pada kesepakatan, keadilan atau kesetaraan, efektifitas dan efisiensi, akuntabilitas, visi strategis serta peduli lingkungan hidup.
Berdasarkan hasil survei itu sebanyak 22 persen responden masih memilih Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Kemudian disusul Faisal Basri yang mendapat nilai 6 persen. Sementara itu, 66 persen lainnya tidak memilih atau golongan putih (golput).
Disebutkan dalam survei tersebut, masyarakat Jakarta mencari sosok pemimpin yang memenuhi kriteria tertentu. Misalnya pemimpin yang bersih dari korupsi sebanyak 38 persen, memiliki loyalitas yang tinggi sebanyak 27 persen, serta memiliki komitmen sebanyak 12 persen.
Masyarakat Jakarta tak memandang latar belakang suku gubernur yang akan menjabat. Tercatat 56 persen warga menganggap sama saja atau dari suku manapun berhak menjadi Gubernur DKI Jakarta.
"Lalu 36 persen warga memilih suku Betawi menjadi gubernur DKI, dan 6 persen non-Betawi," kata Soegeng Sarjadi.
Survei juga mencatat, warga DKI Jakarta tidak mempersoalkan usia gubernur. Tercatat, warga memilih gubernur berumur tua, atau muda sama saja sebanyak 42 persen, tokoh muda 34 persen dan tokoh tua sebanyak 22 persen. Serta lebih condong memilih gubernur berjenis kelamin lelaki sebanyak 65 persen.
"Begitu juga dengan visi dari calon gubernur. Publik lebih memilih gubernur yang memiliki visi nasionalis. Sebanyak 65 persen nasionalis dari pada yang agama sebesar 10 persen atau sama saja sebesar 23 persen," ujarnya.
- Info Momentum
- Misteri Puzzle yang Menyelimuti Antartica
- Tehnik Manusia Terbang dalam Pembuatan Piramida Mesir
- Rahasia Illuminati dalam Uang Rp.10ribu Indonesia
- Orang Aceh Misterius yang Menembak Jend. Kohler pada Zaman Penjajahan
- Misteri Hilangnya 13 Aktifis Menjelang Reformasi
- FOTO dan VIDEO: Festival Olahraga Gulat Gambia
- VIDEO: Behind The Scene Baby Julius di Popular


