Popularitas Cagub DKI Masih Perlu Diuji
Masih terlalu dini untuk memperkirakan hasil Pilkada DKI yang akan dilakukan pada Juli.
Simulasi pemilu (Antara/ Ismar Patrizki)
VIVAnews - Masyarakat diminta untuk tidak terlalu cepat percaya dengan hasil survei yang memperkirakan hasil Pilkada DKI Jakarta belakangan ini. Meski menurut hasil survei popularitas sejumlah calon meningkat, tapi saat mendekati hari pemilihan, publik akan menguji lagi siapa yang benar-benar layak memimpin Jakarta lima tahun ke depan.
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengatuhan Indonesia (LIPI) Wawan Ichwan mengatakan, masih terlalu dini untuk memperkirakan hasil Pilkada DKI yang akan dilakukan pada Juli mendatang.
Menurut Wawan, persaingan ketat mungkin akan terjadi antara tiga pasangan yaitu pasangan incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan pasangan PDIP, Jokowi dan Ahok, serta pasangan dari PKS Hidayat Nur Wahid (HNW)-Didik. Popularitas Jokowi diyakini akan terus dibayangi Hidayat dengan mesin partai PKS. Keduanya akan saling menyaingi.
"Semua calon saat ini belum maksimal menggerakkan mesin partainya. Masyarakat harus melihat lembaga survei, pembanding, dan asal dana yang digunakan," kata Wawan Ichwan kepada VIVAnews.com, Kamis 19 April 2012.
Bila melihat popularitas Jokowi, Wawan melihat Walikota Surakarta ini lebih banyak dibantu pencitraan dari media massa. Tapi secara kualitas dan kinerja, pasangan Jokowi-Ahok juga masih perlu dilihat lagi.
"Peran media tidak bisa dilepas, tapi apakah kinerjanya di Solo akan berhasil di Jakarta. Tapi mungkin saja Jokowi punya harapan bagi sebagian masyarakat," katanya.
Mengurus Kota Surakarta dengan tatangan melayani penduduk hanya sekitar 400.000 orang dan cenderung homogen tentu tidak bisa disamakan dengan mengurus warga Jakarta yang penduduknya lebih 9 juta orang dan sangat heterogen.
Di samping itu dilihat dari tingkat sosial ekonomi, aspirasi penduduk Surakarta dengan pendapatan per kapita sekitar Rp7 juta per tahun mungkin relatif jauh lebih sederhana, sementara Jakarta lebih complicated dengan penduduk berpenghasilan rata-rata Rp100 juta per tahun.
Mengenai calon dari PKS, disampaikan Wawan, meski suara partai ini cukup besar di Jakarta, belum tentu juga dukungan dalam pilkada nanti akan besar. Karena masih harus dilihat apakah suara PKS saat ini masih loyal.
"Tantangan terbesar PKS adalah banyaknya calon juga yang ikut bertarung," katanya.
Sementara pasangan incumbent Foke-Nara, yang dalam sejumlah survei masih dalam posisi teratas, menurut Wawan juga masih sangat sulit jalannya untuk meraih kemenangan di Pilkada. Bisa saja akan turun, karena calon terus melakukan kampanye.
"Memang tidak mudah mengalahkan pasangan incumbent hanya dengan kampanye di media secara singkat. Tapi bisa saja pasangan lain menjadi alternatif yang dipilih masyarakat," katanya.
Lalu untuk calon idependen, dirasa masih cukup berat untuk melawan kandidat dari partai karena mereka tidak punya mesin politik, meski mereka sudah memulai sejak awal saat pendaftaran. "Menjadi pesaing sesungguhnya dari Fauzi Bowo akan sangat sulit," katanya. (adi)
-
Ashley Cole & Anton Ferdinand Nyaris Adu Jotos di Los Angeles
-
Menghebohkan, Remaja Ini Berenang Bersama Hiu 9 Meter
-
Kota Hilang Seperti "Atlantis" Ditemukan di Kamboja
-
Video Biksu Naik Jet Pribadi Hebohkan Thailand
-
VIDEO: Pengakuan Gadis Pemotong Kelamin di Tangerang
-
Sewa PSK, Bintang Bayern Munich Terancam 3 Tahun Penjara
- Info Momentum
- Para Pemimpin Dunia Disusupi Alien?
- Kisah Kim Ung Yong, Manusia Super Jenius
- Ilmuwan: Ada Puluhan Miliar Planet Mirip Bumi di Jagat Raya
- Jaman Dulu Nenek Moyang Bangsa Indonesia Menguasai 2/3 Bumi
- Tragedi Pembantaian Massal 'Kali Angke'
- Idol Rock, Batu Seberat 200 Ton yang Seimbang
- Foto: F(X) Girl Band Asal Korea Selatan 5 Bidadari Cantik



