METRO

M Nuh Usul Beasiswa ke Siswi SD Pekerja Kelab

Siswi SD di bawah umur belum waktunya bekerja, apalagi di kelab malam, kata Mendikbud

ddd
Jum'at, 27 April 2012, 16:49 Elin Yunita Kristanti, Ayatullah Humaeni (Bogor)
Mendiknas usul beasiswa untuk SA, murid SD kerja di kelab malam
Mendiknas usul beasiswa untuk SA, murid SD kerja di kelab malam (VIVAnews/Fernando Randy)

VIVAnews - Usianya baru 14 tahun, namun siswi kelas 6 SD Negeri 13 Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara itu sudah punya pekerjaan. Tiap malam, mulai pukul 21.00 ia harus keluyuran ke kelab malam, tempatnya bekerja sebagai penyanyi.

Nasib bocah berinisial SA itu telah membuat terenyuh banyak pihak, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh. Dia bahkan mengaku sempat berang setelah mendengar kisah SA.

M Nuh menegaskan, anak yang masih mengenyam pendidikan di SD belum waktunya untuk bekerja, apalagi di kelab malam seperti yang harus dilakoni SA.

"Orang yang memperkerjakan harus dikasih tahu agar tak memperkerjakan anak di bawah umur,"ungkapnya, kepada wartawan usai menghadiri peresmian gedung perkuliahan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terletak di daerah Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jum'at 27 April 2012. Pihak yang mempekerjakan SA juga harus dijatuhi sanksi.

Selain itu, kata Nuh, pihaknya akan mendorong Dinas Pendidikan (Disdik) tingkat Kota dan Provinsi agar memberi beasiswa pendidikan terhadap siswi SD tersebut. "Kami akan mendorong masalah beasiswa siswi SD tersebut, sehingga Disdik tingkat Kota dan Provinsi agar memberikan beasiswa,"tegasnya.

Gunung Es

Kisah tragis SA terkuak saat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyambangi rumahnya di Kampung Beting, Koja, Jakarta Utara. KPAI menduga, tak hanya dipekerjakan, anak kedua dari empat bersaudara itu diduga juga sudah dijual kepada pria hidung belang.

"Persoalan mendasar dari kasus ini adalah sulitnya mengakses sumber-sumber penghasilan yang cukup. Dan ini hanyalah fenomena gunung es. Mereka terpuruk karena pemerintah gagal menyiapkan infrastruktur yang layak bagi mereka," ujar Sekretaris KPAI, M Ikhsan, saat mengunjungi kediaman SA.

Ikhsan pun mengatakan anak yang bekerja hingga tengah malam, rawan pelecehan seksual, terjerumus dalam aktivitas transaksi seksual, kekerasan, dan perdagangan perempuan. "Tidak ada satu pun pembenaran dalam kasus seperti ini," tegasnya.

SA hanya salah satu korban. Data KPAI pada 2010 menunjukkan bahwa jumlah anak yang bekerja mencapai 2,3 juta anak. Mereka bekerja di industri, jalanan, dan lain sebagainya. Anak-anak ini rentan dengan kekerasan, dan eksploitasi. (ren)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru