METRO

Razia Narkoba di Mobil Lita Versi Ipda Johan

Setelah dicek ke apotik, obat yang ditemukan ternyata bukan narkoba tapi obat alergi.

ddd
Rabu, 20 Juni 2012, 08:34 Arry Anggadha
Razia polisi
Razia polisi (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

VIVAnews - Pengakuan Sherlita Stephanie di Twitter tentang jebakan razia narkoba oleh polisi ramai jadi perbincangan. Saat itu, Lita--panggilan Sherlita--bersama rekannya, Yasmin, sedang melintas di Jalan Bangka, Jakarta Selatan.

Disetop polisi, demikian kata Lita, beberapa petugas ketika itu langsung membuka pintu belakang mobil Lita. Salah satunya yang memeriksa mobil Lita tiba-tiba berteriak mengaku menemukan obat-obatan yang dia katakan sebagai narkoba.

Namun, Ipda Johan Hanafi, anggota kepolisian yang melakukan razia di Jalan Bangka itu kini mengungkapkan cerita sendiri. Dalam rilis yang diedarkan Divisi Humas Mabes Polri, dia menceritakan kronologi versi dia.

Menurut Johan, Selasa kemarin, 19 Juni 2012, kepolisian sedang menggelar operasi resmi bernama "Operasi Cipta Kondisi 2012". Sebanyak 15 petugas melakukan razia di depan Apotek K-24, Jalan Bangka Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Berikut kronologinya:

Pukul 01.30 WIB

Briptu Feri Guntara, anggota Patko dengan nomor mobil 4043, menghentikan sebuah mobil Toyota Kijang Innova warna silver dengan nomor polisi tidak diingat yang dikemudikan oleh seorang perempuan--di mobil bersama perempuan lainnya--yang melintas dari arah Kemang menuju Jalan Bangka.

Kemudian mobil tersebut menepi. Saat itu terlihat pengemudi dan temannya berganti posisi duduk dalam keadaan panik.

Briptu Gatot Hariyadi menghampiri mobil tersebut, didahului dengan ucapan salam. Briptu Gatot Hariyadi meminta pengemudi dan penumpang untuk turun dari mobil guna memeriksa isi mobil tersebut.

Gatot menemukan 1 plastik klip bening yang berisi 1 strip obat. Lalu, Gatot bertanya siapa pemiliki obat tersebut. Perempuan itu berteriak: "Saya dijebak nih. Jangan jebak saya, ya!"

Aipda Teguh Widodo mengatakan, "Mbak, kami melakukan tugas resmi kepolisian dan kami melakukan operasi ini ada surat perintahnya. Apakah Mbak dalam pengaruh minuman keras?"

Perempuan tersebut kembali berbicara dengan nada keras: "Kalian tahu tidak, saya ini kenal dengan banyak pejabat Polri dan saya akan menelepon adik saya yang juga kenal banyak pejabat Polri. Kalian tunggu di sini. Saya juga kenal Pak Wisnu Polda Metro."

Perempuan tersebut lalu diminta untuk mengambil obat dalam plastik yang terletak di karpet jok tengah sebelah kiri. Karena perempuan tersebut tak juga mengambilnya, maka Gatot mengambilnya dengan disaksikan Briptu Ferry Guntara dan Aipda Teguh Widodo.

Pukul 02.00 WIB

Kemudian datang seorang lelaki yang disebut adik perempuan tersebut dan langsung menghampiri saya (Ipda Johan Hafani). Sebelum menemui saya, lelaki itu meminta kedua perempuan itu untuk masuk ke mobilnya karena kakaknya masih berbicara dengan nada keras.

Kemudian orang tersebut bertanya kepada saya (Ipda Johan) apakah barang atau obat itu ditemukan di karpet sebelah kiri jok penumpang yang ada di tengah mobil. Aipda Teguh Widodo ikut menjelaskan kepada orang tersebut bahwa setelah dilakukan pengecekan awal di Apotek K-24 yang berada di dekat lokasi tersebut, itu bukanlah obat terlarang melainkan obat alergi.

Setelah mendapat penjelasan dari saya selaku Perwira Pengawas yang bertanggung jawab dalam operasi dan Aipda Teguh Widodo selaku Provost, adik perempuan itu meminta maaf kepada saya dan Aipda Teguh Widodo, sambil berkata: "Maafkan kakak saya. Dia memang di pihak yang salah."

Pukul 02.30 WIB

Setelah dipastikan itu obat anti alergi, saya serahkan kepada adik perempuan tersebut. Selanjutnya kami bersalaman serta meninggalkan tempat tersebut.

Dalam pelaksanaan Operasi Cipta Kondisi tersebut tidak ada orang maupun barang yang diamankan di Polsek Mampang Prapatan. Identitas perempuan tersebut belum sempat didata karena yang bersangkutan masih dalam keadaan emosional.

* * *

"Laporan tertulis itu ditandatangani Johan dan dia juga bersumpah sudah membuat laporan dengan benar. Kapolsek Mampang Kompol Siswono juga turut membubuhkan tanda tangan," demikian dinyatakan dalam rilis kepolisian itu.

Atas peristiwa ini, Lita Stephanie menyatakan berencana melapor ke pihak berwenang. "Saat ini saya ingin tenang dulu, setelah itu baru melapor," kata dia kepada VIVAnews, Selasa. Tudingan gawat Lita itu dia tweet melalui aku Twitter-nya @litastephanie.

"Saya ngetwit spontan dan tanpa ekspekatasi apa-apa," ucap perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan event organizer itu.

Kepolisian Daerah Metro Jaya sendiri telah meminta Lita melapor secara resmi bila memang merasa dijebak. "Bila merasa dirugikan baiknya diselesaikan agar tuntas. Jangan hanya berkoar dan membuat permasalahan meluas dan tidak ada jalan ke luar," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto. (kd)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
deri0405
23/06/2012
paraahh., pulang perpanjang STNK, ditilang ama polisi, semua lengkap, ga mau malu dah nilang eh cari2 alasan., tawar-menawar kayak beli narkoba, keluarlah tuh uang haram 20rb buat ngepul dapurnya dia., gagah pake seragam eh wataknya kayak pengemis wkwkwk
Balas   • Laporkan
episode JEBAKAN BETMEN apa SUPER TRAP ya ? ;)
Balas   • Laporkan
cengceng
21/06/2012
sy tdk percaya polisi bersikap spt itu dlm pd saat razia,krn dua org anak sy pernah mengalami razia.anak saya lupa membawa stnk.polisi dengan sabar menunggu smp sy dtg,dan setelah menunjukan stnk kami diperingati dan d pulang tanpa memberikan sepeser uan.
Balas   • Laporkan
putra_riau
20/06/2012
dalam kasus ini polisi kayaknya bener deh, dan si lita aja yg sok anak pejabat dan sok orang penting. kita memang selalu skeptis dg polisi, tp sekali ini kita hrs berpikir sebaliknya. toh, si lita jg gak dirugikan, dijebak masak dg obat anti alergi...
Balas   • Laporkan
holland66
20/06/2012
YANG PAKE BACKING JUGA SALAH, YANG POLISI UDAH CITRANYA NGGAK BAGUS. INILAH INDONESIA!
Balas   • Laporkan
wirahadi.sky
20/06/2012
sudah rahasia umum.... polisi suka mejebak masyarakat..dengan tujuan si terjebak menggelontorkan uang tebusan..., bermain-main dengan kewenangan.., pragmatis dan tidak profesionalis...membuat stigma menakut nakuti masyarakat.., tp ga mau ngaku salah..
Balas   • Laporkan
dapscom | 20/06/2012 | Laporkan
Bener gan, anehnya kalau ada anggotanya yang salah, justru terkesan dibela. Aneh..
widodojava
20/06/2012
seberapapun masalah sebaiknya di selesaikan dengan kepala dingin jangan emosional coz kl kita emosi berarti kita berada di pihak yang kalah
Balas   • Laporkan
mudah"an dari pihak polri bisa membaca coment" ini dan mengambil hikmah nya agar tidak terulang lg dan memperbaiki citra kepolisian untuk masa yg akan datang. dalam kasus lita ini, kita tdk tahu siapa yg salah dan yg benar.
Balas   • Laporkan
godam
20/06/2012
hahahahaha itu kronologis karangan anak SD ya??ga masuk akal banget. Rampok emang ga ada yg mau ngaku :P
Balas   • Laporkan
blondot2012
20/06/2012
sangat disayangkan polisi yang melakukan razia narkoba tidak tahu jenis jenis narkoba, itu peluang yg sangat besar untuk memeras dg menggertak dan menahan sementara korban.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru