METRO

TNI AU Bentrok dengan Warga Cilangkap, 4 Luka

Sengketa lahan Kompleks Dwikora TNI AU, berujung bentrok.

ddd
Selasa, 4 Desember 2012, 10:43 Desy Afrianti, Darmawan (Depok)
 Personel TNI AU berjaga di lahan sengketa
Personel TNI AU berjaga di lahan sengketa (VIVAnews/Darmawan)

VIVAnews - Sengketa lahan Kompleks Dwikora TNI Angkata Udara, Cilodong, Cilangkap, Tapos, Depok, Jawa Barat, berujung bentrok, Selasa 4 Desember 2012. Sedikitnya empat orang mengalami luka-luka.

Seluruh korban berasal dari warga sipil yang merupakan ahli waris dari perumahan tersebut. Mereka, masing-masing Ita, 34 tahun, Robi, 32 tahun, Dian 43, tahun, dan Agus, 46 tahun.
     
Keempatnya terluka saat ikut bersama warga lainnya menghadang kedatangan ratusan personel TNI AU yang berniat mengeksekusi rumah mereka.

Kini keempat korban tengah membuat laporan di Mapolresta Depok terkait kasus kekerasan yang mereka alami. "Saya diinjak dan ditonjok. Adik saya bahkan diseret-seret, ini benar-benar keterlaluan," kata Ita saat ditemui di lokasi kejadian.
     
Kisruh ini terjadi sejak tahun 2005. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Azman Yunus, mengungkapkan bahwa secara hukum warga sudah kalah. Menurut dia, mulai dari pengadilan negeri hingga Mahkamah Agung sengketa ini selalu dimenangkan TNI AU.

Dia menjelaskan tanah Kompleks Dwikora yang dihuni oleh para ahli waris purnawirawan adalah milik TNI AU dan harus dikosongkan dengan alasan untuk ditempati para perajurit yang baru.

Namun upaya itu ditentang warga. Warga merasa berhak dengan tanah dan bangunan yang selama berpuluh-puluh tahun itu ditempati. "Padahal para ahli waris sudah punya rumah pribadi di belakang kompleks, malah sudah punya kontrakan juga. Saat ini banyak personel yang masih aktif belum memiliki rumah," kata Azman.

Azman membantah terjadi bentrok antara aparat dan warga. Menurutnya anggota memang sempat meminta warga untuk memberikan jalan saat mobil TNI akan memasuki kompleks. "Tapi karena warga tidak mau akhirnya mereka kami geser. Itu bukan bentrok," ucapnya.

Pantauan VIVAnews, hingga saat ini ketegangan masih terjadi. Ratusan aparat TNI AU tampak berjaga-jaga di sekitar kompleks. Sementara warga hanya bisa berkumpul di luar pagar pintu masuk komplek. (sj)

 

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
sundokowhae
04/12/2012
Kalo tidak tahu, gak usah komentar, malah ngaco..!!! Lihat saja statusnya, itu rumah dinas apa bukan... kalo rumah dinas, tentunya untuk yang masih dinas aktif, tidak ada itu istilah ahli waris, kalo bukan rumah dinas, tentu ada ahli warisnya...
Balas   • Laporkan
consheo
04/12/2012
Rumah dinas adalah sekedar ijin tinggal selama berdinas bukan untuk dimiliki ataupun diwariskan. Kalau sampai dimiliki dan diwariskan itu namanya menzalimi yang lebih berhak untuk menempati. Baiknya di PIDANA!
Balas   • Laporkan
ramalah
04/12/2012
Yang namanya rumah dinas ya harus dikosongkan kalo si tentara udah pensiun...lha ini malah anaknya tentara merasa berhak memiliki. Atas dasar apa ?
Balas   • Laporkan
irawan.mz
04/12/2012
Itulah kalau masih aktif berdinas terlena menempati rumah Dinas. Malah ada yang rumah Dinasnya sudah direnovasi sendiri. Diusir orang yeah jangan marah, kan Bukan milik kita sendiri.
Balas   • Laporkan
samasaja
04/12/2012
Warga sih salah sok kuat. Sudah tau salah trus mau bentrok dgn tentara. hukum apa aja gak mbenerin kok.Ngalah aja deh dri pada tewas. Lepas aja tuntutannya. gk usah ngelawan penguasa. Cukup doa aja ke Tuhan dan minta mereka cepat mampus dan masuk neraka.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com